Akhir tahun lalu saya bertemu dengan seorang teman lama, Nan. Dia datang jauh-jauh dari Depok ke Yogya. Saya terkejut saat kembali bertemu. Kalau tidak salah, terakhir kita ketemu saat lulusan SMA. Tiga tahun lalu.
Gerimis sore itu perlahan reda. Tepat setelah kita kembali ke rumahmu, dan azan magrib telah selesai berkumandang. Menandakan sudah waktunya buka puasa. Milkmax yang sudah kita beli, kita gunakan untuk membatalkan puasa.
Sehari sebelum berkunjung ke rumahmu, aku menelusuri tempat-tempat wisata di kotamu melalui internet. Selagi di kotamu aku pikir akan lebih menyenangkan jika kita habiskan untuk liburan bersama. Hanya saja waktu sudah tidak memungkinkan untuk menjangkau tempat wisatanya. Sore itu kita sepakat untuk berkeliling menikmati suasana kota.
Ibu saya pernah berkata, “Yang lalu biarlah berlalu.” Kalimat sederhana yang ternyata sulit untuk dilakukan. Maksud Ibu saya tentu baik dan bukan tanpa alasan. Saya adalah orang yang sulit menerima kenyataan yang sudah terjadi dan butuh waktu yang tidak sedikit menerima itu semua. Seseorang yang terluka secara fisik butuh waktu juga kan untuk benar-benar sembuh?
Aku tidak tahu apa yang mesti disiapkan saat bertemu orang tuamu nanti. Alasannya sederhana, aku belum pernah berada pada kondisi seperti ini. Sepanjang pengalaman dekat dengan beberapa perempuan, sama sekali aku belum pernah bertamu ke rumahnya seorang diri. Tiba-tiba aku teringat satu kalimat pamungkas yang pernah aku dengar, “ Kalau kamu yakin, pasti bisa.”